evanescence

Selasa, 27 November 2012

Bridging




 Bridging pada Jaringan

LAN Bridge IBM
    Bridging adalah teknik forwarding (meneruskan kembali paket data) yang digunakan dalam bentuk packet-switched pada jaringan komputer. Tidak seperti routing, bridging tidak mengasumsikan tentang dimana alamat jaringan tertentu berada. Tetapi, bridging mengasumsikan berdasarkan pada aliran data dan memeriksa alamat sumber dalam paket data yang diterima untuk menemukan perangkat yang tidak dikenal.

Setelah perangkat ditemukan, lokasi dicatat dalam sebuah tabel dimana alamat MAC disimpan sehingga mencegah peyebaran kembali paket data. Teknik bridging sering digunakan dalam jaringan lokal (LAN) karena untuk membatasi banjirnya aliran paket data.
Bridge menghubungkan beberapa segmen jaringan pada datalink layer (layer 2) dari model OSI. Sebuah brigde sangat mirip dengan switch, switch merupakan bridge dengan banyak port. Switch dan bridge dapat saling digantikan, tergantung dari kebutuhan dan bentuk jaringan.
Bridge juga mirip dengan repeater atau hub, perangkat yang menghubungkan segmen jaringan di layer fisik (layer 1) dari model OSI. Namun, dengan menggunakan bridge, lalu lintas dari suatu jaringan bukan hanya disebarluaskan kembali ke segmen jaringan. Bridge lebih kompleks dari hub atau repeater, karena brigde dapat menganalisa paket data yang masuk untuk menentukan apakah paket data akan dikirim kembali ke segmen jaringan atau tidak.
Keuntungan    
·        Sederhana dan murah
·        Mengisolasi tabrakan paket data
·        Kontrol akses dan kemampuan mengatur jaringan
·        Mengurangi kepadatan lalu lintas data
·        Menhubungkan 2 segmen jaringan yang berbeda
Kekurangan
·        Tidak membatasi cakupan aliran data
·        Tidak untuk skala jaringan yang besar
·        Buffer dan pemrosesan data menyebabkan keterlambatan aliran data
·        Sulit diimplementasikan pada jaringan yang cukup kompleks


Bridging vs Routing
Bridging dan routing keduanya melakukan kontrol data, tetapi bekerja melalui metode yang berbeda. Bridging bekerja pada model OSI layer 2 (datalink) sedangkan routing bekerja pada model OSI layer 3 (networking). Perbedaan ini berarti bridge mengarahkan paket data sesuai dengan alamat fisik jaringan (MAC address), sedangkan router mengarahkan paket data dengan aturan yang dibuat sesuai dengan alamat IP. Sebagai hasilnya, bridge tidak peduli dan tidak mampu membedakan jaringan (antar bagian jaringan tertentu) sementara router bisa.
Ketika merancang jaringan, seseorang dapat memilih untuk membuat beberapa segmen jaringan menggunakan bridge atau router. Jika sebuah host secara fisik dipindahkan dari satu jaringan ke jaringan lain pada jaringan yang dipasang router, ia harus dikonfigurasi ulang untuk mendapatkan alamat IP yang baru, tetapi jika pemasangan jaringan menggunakan jaringan bridge, maka tidak dilakukan konfigurasi ulang.




Terdapat lima jenis bridge jaringan yang umum dijumpai:

 * Bridge Lokal: sebuah bridge yang dapat menghubungkan segmen-segmen jaringan lokal.
 * Bridge Remote: dapat digunakan untuk membuat sebuah sambungan (link) antara LAN     untuk membuat sebuah Wide Area Network.
 * Bridge Nirkabel: sebuah bridge yang dapat menggabungkan jaringan LAN berkabel dan jaringan LAN nirkabel.
* Transparent Bridge
Melakukan bridging antara 2 atau lebih segmen LAN. Jenis bridge ini juga dapat melakukan bridging pada jenis media physical layer yang berbeda (UTP, coax, fiber dll). Pengaturan bridge jenis ini dapat dilihat pada dokumen standar IEEE 802.1D.

* Translating Bridge
Adalah jenis bridge yang mampu untuk melakukan bridging antar protocol pada data link layer (contoh Ethernet dengan Token Ring). Dengan demikian terjadi proses konversi
jenis frame data dan transmission rate masing-masing protocol. Proses ini dilakukan pada preamble dan FCS (frame check sequence). Pada bagian lain kita akan membahas pula bagaimana menghitung performance network dalam hubungannya dengan penerapan kedua jenis bridge ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar